Sejarah Kacamata dan Perkembangannya dari Masa ke Masa

Sejarah Kacamata dan Perkembangannya dari Masa ke Masa

Desain Kacamata Pertama dengan Gagang

Kacamata, siapa yang tidak mengenal salah satu alat bantu penglihatan manusia ini. Bagi penderita kelainan mata, seperti: Mata Minus, Mata Plus, Mata Silinder, Mata Berair, Mata Kabur, Mata Kering, dan sejenisnya, penggunaan alat bantu berbentuk dua lensa tipis yang diikat oleh frame bergagang ini sudah menjadi keharusan.

Jika diperhatikan, untuk saat ini keberadaan akan kacamata sudah cukup banyak dan bisa dibeli secara bebas dimana saja. Bentuk dan desainnya pun sudah beraneka ragam menyesuaikan tren dan fashion yang sedang disukai pada satu masa. Ada yang bentuk lensanya bulat, ada yang berbentuk pipih, bahkan ada yang berbentuk lonjong.

Sekarang apakah pernah terpikirkan oleh kawan-kawan mengenai sejarah kacamata dan bagaimana kisah perkembangannya dari masa ke masa. Sepertinya bentuk dan model desain kacamata saat sekarang ini sangat jauh berbeda dengan model kacamata pertama yang dibuat. Dengan kata lain, kacamata model jadul tentu saja memiliki model lebih sederhana dibanding kacamata kekinian.

Sejarah Kacamata

Kisah Penggunaan Kacamata Jaman Dahulu

Kisah Penggunaan Kacamata Jaman Dahulu (Sumber: Google.Com)

Mencoba untuk mencari informasi dan referensi mengenai sejarah kacamata dan perkembangannya dari masa ke masa ternyata tidak mudah. Masih simpang siurnya informasi yang diperoleh membuat kisah sejarah perkembangan kacamata ini belum dapat dipastikan terutama siapakah penemu pertama kacamata ini. Ada dua persepsi siapa penemu kacamata pertama kali, apakah bermula dari Islam atau dari Eropa. Oleh karena itu, berikut akan dijelaskan sejarah kacamata dari dua persepsi tersebut.

Dari beberapa referensi tulisan yang didapatkan, salah satu sumber referensi dari Lutfallah Gari, seorang peneliti sejarah sains dan teknologi Islam dari Arab Saudi ini boleh dijadikan rujukan. Dari hasil investigasi yang dilakukannya dengan membedah sejumlah sumber asli dan meneliti literatur tambahan, Lutfallah Gari menemukan fakta bahwa peradaban Muslim di era keemasan memiliki peranan penting dalam menemukan alat bantu baca dan lihat yang sekarang dikenal dengan nama kacamata ini.

A. Bermula dari Peradaban Islam

Dalam tulisannya bertajuk “The Invention of Spectacles between the East and the West“, Lutfallah Gari mengungkapkan bahwa peradaban Bangsa Barat kerap mengklaim sebegai penemu kacamata. Padahal setelah dirinya melakukan penelitian, jauh sebelum Bangsa Barat mengenal kacamata, peradaban Islam telah menemukannya. Menurutnya Bangsa Barat telah melakukan kebohongan dengan membuat sejarah bahwa yang menemukan kacamata adalah mereka.

Lutfallah Gari menambahkan bahwa Bangsa Barat sengaja membuat sejarah bahwa kacamata itu muncul saat Etnosentrisme. Menurutnya, sebelum peradaban manusia mengenal kacamata, para ilmuwan dari berbagai peradaban telah menemukan lensa. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya kaca.

Sebenarnya penggunaan lensa juga sudah cukup dikenal pada beberapa peradaban seperti Romawi, Yunani, Hellenistik dan Islam. Akan tetapi, berdasarkan dari bukti-bukti yang ditemukan, lensa-lensa pada saat itu tidak digunakan untuk magnification (perbesaran), melainkan untuk pembakaran. Sama persis seperti penggunaan lensa kaca pembesar (suryakanta) pada saat sekarang ini, pancaran cahaya matahari difokuskan pada titik api lensa. Jadi, pada jaman itu lensa ini disebut sebagai “kaca pembakar” atau burning mirror.

1. Ibnu al-Haitam (963-1039 M)

Dalam beberapa literatur yang ditulis oleh beberapa sarjana Muslim pada era peradaban Islam, pembahasan mengenai sejarah kacamata ini cukup banyak ditemukan. Menurut Lutfallah Gari, salah seorang ahli fisika Muslim legendaris, Ibnu al-Haitham (965-1039 M) dalam karyanya bertajuk Kitab al-Manazir (tentang optik) telah mempelajarai masalah perbesaran benda dan pembiasan cahaya.

Ibnu al-Haitam Tokoh Muslim Cendikiawan

Ibnu al-Haitam Tokoh Muslim Cendikiawan (Sumber: NurulFikri.Ac.Id)

Ibnu al-Haitam mempelajari bagaimana proses pembiasan cahaya bisa melewati sebuah permukaan tanpa warna seperti kaca, udara dan air. Dalam salah satu kutipannya, bentuk-bentuk benda yang terlihat tampak menyimpang ketika terus melihat benda tanpa warna. Ini merupakan bentuk permukaan seharusnya benda tanpa warna.

Hasil tulisan dari Ibnu al-Haitam ini menjadi salah satu fakta bahwa ilmuwan Muslim Arab pada abad ke-11 telah mengenali kekayaan perbesaran gambar melalui permukaan tanpa warna. Akan tetapi, pada saat itu al-Haitham belum mengetahui aplikasi yang penting dalam fenomena ini. Buah pikir yang dicetuskan Ibnu al-Haitham itu merupakan hal yang paling pertama dalam bidang lensa.

2. Ibnu al-Hamdis (1055-1133 M)

Selain Ibnu al-Haitham, penemuan kacamata dalam peradaban Islam terungkap dalam puisi-puisi karya Ibnu al-Hamdis (1055-1133 M). Dalam hasil tulisan syairnya sekitar 200 tahun lalu, jauh sebelum Bangsa Barat dianggap menemukan kacamata, Ibnu al-Hamdis telah menggambarkan wujud kacamata lewat syairnya sebagai berikut:

”Benda bening menunjukkan tulisan dalam sebuah buku untuk mata, benda bening seperti air, tapi benda ini merupakan batu. Benda itu meninggalkan bekas kebasahan di pipi, basah seperti sebuah gambar sungai yang terbentuk dari keringatnya.” – Ibnu al-Hamdis

Pada syair selanjutnya, Ibnu al-Hamdis menuliskan, ”Ini seperti seorang yang manusia yang pintar, yang menerjemahkan sebuah sandi-sandi kamera yang sulit diterjemahkan. Ini juga sebuah pengobatan yang baik bagi orang tua yang lemah penglihatannya, dan orang tua menulis kecil dalam mata mereka.”

Sebenarnya dari syair-syair hasil tulisan Ibnu al-Hamdis tersebut telah mematahkan klaim Bangsa Barat sebagai penemu kacamata pertama. Sedangkan pada puisi ketiga, penyair Muslim legendaris ini mengatakan, “Benda ini tembus cahaya (kaca) untuk mata dan menunjukkan tulisan dalam buku, tapi ini batang tubuhnya terbuat dari batu (rock)”.

Nah, dalam dua puisi lainnya, Ibnu al-Hamids menyebutkan bahwa kacamata merupakan alat pengobatan yang terbaik bagi orang tua yang menderita cacat atau memiliki penglihatan yang lemah. Dengan menggunakan kacamata, seseorang akan melihat garis pembesaran.

Terakhir di puisi keempatnya, Ibnu al-Hamdis mencoba menjelaskan dan menggambarkan kacamata sebagai berikut: “Ini akan meninggalkan tanda di pipi, seperti sebuah sungai”. Menurut penelitian Lutfallah Gari, penggunaan kacamata mulai meluas di dunia Islam pada abad ke-13 M. Fakta itu terungkap dalam lukisan, buku sejarah, kaligrafi dan syair.

B. REFERENSI LAIN BERASAL DARI EROPA

Sejarah mencatat bahwa kacamata pertama kali digunakan oleh seorang Kaisar Roma bernama Nero pada tahun 54-68 Masehi. Waktu awal mulanya, kacamata yang digunakan Nero berbentuk batu permata cekung. Kacamata ini digunakan untuk membaca dan menonton pertunjukan.

Perkembangan Kacamata dari Masa ke Masa

Perkembangan Kacamata dari Masa ke Masa (Sumber: NyengYeng.Com)

Bentuk kacamata mengalami perubahan ketika bangsa Cina membuatnya dari lensa yang berbentuk oval sangat besar dan terbuat dari kristal batu serta bingkai dari tempurung kura-kura. Agar lensanya bisa melekat di kedua mata, digunakanlah dua kawat yang diberi pemberat dan dicantolkan di telinga mereka. Atau kalau tidak, lensanya diikatkan ke topi atau menggunakan kait yang dicantolkan ke pelipis mereka.

1. Perkembangan Kacamata di Abad 13

Kacamata mulai dikenal di Eropa pada abad ke 13. Namun berbeda dengan bangsa Cina, orang Eropa menggunakan kacamata untuk membantu penglihatan mereka. Kacamata yang dikenakan masih menyerupai dengan kacamata bangsa Cina yakni terbuat dari kristal batu atau batu transparan.

Pada akhir abad ke 13, akhirnya ditemukan bahwa penggunaan kaca sebagai lensa jauh lebih baik daripada menggunakan batu transparan. Hal ini berdasarkan hasil penelitian ilmuan dan sejarawan Inggris yang bernama Sir Joseph Needham. Penelitiannya menunjukan bahwa kacamata ditemukan 1000 tahun lalu di Cina dan tersebar ke seluruh dunia pada zaman kedatangan Marco Polo pada tahun 1270.

3. Perkembangan Kacamata di Abad 16

Kacamata pertama yang dipergunakan oleh orang Eropa hanyalah kaca pembesar yang dipegang dengan satu tangan. Setelah itu barulah digunakan lensa kaca ganda yang diberikan gagang supaya bias dicantolkan ke telinga. Lalu, gagangnya pun dihilangkan dan digantikan dengan pita atau tali agar bias diikatkan ke kepala.

4. Perkembangan Kacamata di Abad 19

Lensa yang digunakan untuk mengoreksi penglihatan konon digunakan oleh Abbas Ibn Firnas pada abad ke sembilan. Abbas Ibn Firnas menemukan cara untuk memproduksi lensa yang amat jernih. Lensa ini ada dibentuk dan diasah menjadi batu bulat yang dapat digunakan untuk membaca sehingga terkenal dengan istilah batu membaca.

Untuk beberapa waktu, orang menggunakan kacamata per, yakni kacamata yang dijepit dengan alat sejenis peniti ke atas hidung. Akhirnya, lama kelamaan, munculah ide untuk menggunakan kawat bengkok yang dikeraskan supaya menjadi gagang di telinga.

Terlepas dari kedua referensi berbeda mengenai sejarah kacamata dan perkembangannya dari masa ke masa, semua kembali lagi kepada yang membacanya. Mungkin bisa dicari lagi sumber informasi selain dari tulisan ini sebagai bahan pembanding. Semoga tulisan ini bermanfaat. (DW)

Referensi:

  • http://asal-usul-motivasi.blogspot.com/2010/10/asal-usul-kacamata.html
  • https://nyengnyeng.com/sejarah-kacamata-dari-masa-ke-masa/